2009年8月21日金曜日

Ikeda Zoo


Gajah, originally uploaded by hiroharuka.

Sudah lama Haruka bilang jika dia ingin melihat gajah. Gadis cilik 2 tahun ini memang menyukai binatang. Kami pernah mengunjungi Shibukawa Zoo, yang terletak tidak jauh dari kota kami. Hanya sekitar 20 menit mengendarai mobil. Tapi kebun binatang ini lebih pantas disebut sebagai peternakan, karena binatang yang ada di dalamnya sebagian besar kambing, sapi, kelinci dan kuda.

Akhirnya ayah anak-anak mendapatkan informasi adanya sebuah kebun binatang yang lebih besar daripada Shibukawa Zoo, yaitu Ikeda Zoo. Letaknya di kota Okayama, sekitar 1,5 jam perjalanan dengan mobil dari kota Tamano.

Setelah sempat menyasar sekitar 20 menit akhirnya kami sampai ke Ikeda Zoo. Sebuah kebun binatang yang sudah cukup tua dan sepi pengunjung, yang letaknya terpencil di atas bukit, di tengah kota Okayama. Agak aneh mendengarnya? Ya walaupun kota Okayama adalah ibukota perfektur di Jepang, bukit-bukit yang ada di dalam kota dibiarkan apa adanya dengan segala kealamiannya.
Bunga di depan jerapah
Gajah yang dirindukan Haruka berada tidak jauh dari pintu masuk. Jadi tujuan pertama kami adalah ke tempat ini. Haruka begitu antusias, bahkan bisa dibilang dia tercengang akan benntuk gajah yang begitu besar. Saat diajak berfoto dia tidak bergeming dan tetap memandangi sang gajah.

Kami juga menemui beberapa binatang lainnya seperti jerapah, ressa panda, singa, harimau, tikus kapibara, beruang, buaya dan rusa. Tidak ketinggalan kambing, domba, ayam, berbagai jenis burung dan keledai.
Tora
Jerapah
Memang Ikeda Zoo tidak ada apa-apanya dibandingkan Taman Safari Indonesia. Tapi ini cukup memuaskan anak-anak kami. Mereka menikmati saat-saat mereka bisa memberi makan beruang dengan makanan yang kami yang beli seharga 2000 yen. Ini salah satu kesempatan untuk mengenalkan berbagai jenis binatang yang selama ini hanya mereka lihat di dalam buku cerita dan televisi.

2009年8月5日水曜日

井倉洞


50メートルの天の岩穴から落ちる滝、岩肌からしみ出す水。
そして岩間に吸い込まれていく流れ・・・・・・。
目の前にぽっかりひらいた黒い穴はどこへつながっているのか。
そして足元の亀裂はどこまで深いのか。
地球の鼓動が聞こえる幽玄の回廊です。

井倉洞は、高さ240メートルに達する石灰岩の絶壁に開口する全長1200メートルの鍾乳洞です。
井倉洞の中を歩くと、ずっと聞こえるのが色々な水の音。
地球上の様々な生物は水から誕生しました。
鍾乳洞も水によってできあがったのです。
何億年という永い時間をかけて流れ落ちた水が、少しづつ鍾乳石や石筍を造り、それがつながって石灰柱ができあがっています。
水が造る形は、繊細で美しい石のカーテンのようです。

Air Terjun Ikura


Ikura_09, originally uploaded by hiroharuka.

Air terjun Ikura berada di kota Niimi propinsi Okayama. Ayah anak-anak mengendarai mobil selama 2 jam 20 menit menuju tempat ini.
Panjang air terjun Ikura 50 meter. Ini keluar dari dalam bukit.

Gua Alam Ikura


Ikura_23, originally uploaded by hiroharuka.

Ini kali pertama aku wisata gua. Melihat pamfletnya, gua alami ini indah sekali. Mulut gua ini berdekatan dengan air terjun Ikura, sehingga gemuruh airnya terdengar membahana di dalam gua.

Namun sayang, kami tidak berani mengeluarkan kamera di bagian paling indah di dalam gua. Kami hanya mengambil gambar di bagian tertentu yang tidak basah dan di depan kuil kecil seperti dalam foto ini.

Jalan setapak di dalam gua sangat sempit dan becek. Air tetesan dari bagian atas gua terus menerus jatuh mengenai pejalan kaki. Beberapa wisatawan menyiapkan jas hujan, hmm ide bagus juga. Sayang tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Anak-anak kami sedikit panik karena tetesan air ini terasa dingin di kepala mereka.

Suhu di dalam gua sekitar 14-15 derajat Celcius sepanjang tahun. Sehingga pada saat musim dingin terasa hangat. Dan pada musim panas seperti ini terasa sejuk.

2009年7月19日日曜日

Wisata Ojigadake

Sabtu, 18 Juli 2009 ayah anak-anak mengajak kami ke bukit Prince. Dalam bahasa Jepangnya disebut Ojigadake. Ini kawasan perbukitan tinggi di dekat pantai. Cuaca cerah hari ini, bahkan bisa dibilang panas terik.

Langit biru cerah seperti ini sebenarnya jarang di kota Tamano dan sekitarnya. Kami tinggal di daerah pantai, namun lautnya lebih sering berkabut. Jarang bisa melihat jelas ke seberang lautan. Padahal di tengah perairan Seto terbentang jembatan besar Seto dan pulau-pulau kecil tidak berpenghuni. Di saat cuaca cerah seperti ini, ayah Hiro dengan semangat mengajak kami jalan keluar.

Ini kali pertama kami naik ke Ojigadake. Cukup berkendaraan 15-20 menit dari rumah kami sampai ke tempat parkir bukit ini. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit menuju puncak. Anak-anak kami sangat menyukai kegiatan alam seperti ini. Terutama Haruka yang lincah, dengan cepatnya dia lari kesana kemari, seakan-akan bukit ini taman bermain yang landai. Untung Hiro cukup dapat diandalkan untuk menjaga adiknya.

Mungkin jika diberi pilihan antara jalan ke perkotaan melihat pertokoan atau wisata alam, aku akan memilih yang terakhir. Yahhh, namun sedikit berkorban untuk kulit. Di musim panas ini, kulitku menghitam dengan cepat.

Ini sisi yang paling terjal dari perbukitan ini. Di belakang kami terbentang perairan Seto.

2009年7月13日月曜日

Tidak terasa Hiro sudah besar

Hiro adalah anak lelaki pertama kami. Bulan ini dia genap berusia 3,5 tahun. Jika mendengar namanya, orang akan berpikir salah satu dari kami adalah orang Jepang. Nama Hiro diambil dari nama Yoshihiro Sugegaya, orang tua angkat suami saya.

Awalnya tidak terpikir bagi kami untuk secepatnya memberi adik bagi Hiro. Kami berencana menambah anak lagi setelah Hiro besar, sekitar 4-5 tahun. Saat itu ayah Hiro masih menempuh pendidikan pasca sarjana di Shizuoka University. Tapi rencana tinggal rencana, pada saat Hiro baru berusia 8 bulan, dokter mengatakan aku telah hamil 2 bulan.

Haruka lahir ketika Hiro berusia 1 tahun 3 bulan. Jarak yang terbilang dekat. Untung saat itu Hiro sudah lancar berjalan dan mulai belajar makan makanan orang dewasa, sehingga aku tidak terlalu repot. Seakan menyadari posisinya sebagai anak pertama, Hiro dengan cepat bisa lepas popok. Tidak sulit menyuruh dia buang air kecil maupun besar, sebelum usianya masuk 1,5 tahun.

Aku menyadari mempunyai adik terlalu dini bisa memancing rasa cemburu pada anak pertama. Ini terjadi pada masa 6 bulan pertama. Tanpa sebab Hiro bisa marah dan mengamuk, sakit-sakitan setiap 2-3 minggu. Walaupun itu cuma sakit biasa seperti diare, batuk atau pilek. Masa-masa itu terasa sangat berat bagiku. Saat itu aku berjauhan dengan ayah Hiro dan menumpang di rumah orang tua untuk melahirkan Haruka. Baru setelah Haruka berusia 1,5 tahun, kami bertiga kembali ke Jepang. Tidak mudah membagi waktu mengurus 2 anak dengan keinginan yang berlainan, ditambah pekerjaan rumah tangga yang tiada hentinya.

Setahun terakhir ini, setelah Hiro jauh dari nenek yang biasa memanjanya, aku melihat perkembangan yang sangat pesat terjadi pada 2 anakku, terutama Hiro. Justru setelah di Jepang dia yang semula anak manja, tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Dia bisa mandi sendiri bahkan memandikan adiknya. Menyiramkan shower, menyabuni dan membilas adiknya. Menjaga adiknya saat bepergian misalnya saat di tempat parkir, selama kami menurunkan barang, dia akan memegang tangan adiknya agar tidak lari kemana-mana. Mencoba membawakan barang belanjaanku. Membantu menyiram kebun. Membereskan mainan yang berserakan. Perkembangan bahasanya pun sangat pesat, apalagi setelah masuk TK Jepang, dia jadi menguasai 2 bahasa. Selain itu Hiro sangat suka diajak diskusi. Dia suka jika aku menanyakan pendapatnya akan suatu hal, dia akan cepat memberikan jawaban.

Aku sering terharu melihat kemandiriannya. Dia suka dengan segala sesuatu yang teratur. Segala sesuatu yang tepat jadwal. Hampir setiap tindakannya ada urutan yang selalu dihafalnya. Aku sering lupa, membiarkan dia dengan kemandiriannya. Berpikir bahwa dia pasti bisa mengerjakan semua. Padahal di usianya ini, dia tetaplah seorang anak balita. Dia masih butuh perhatian yang sama dengan adiknya. Kadang aku merasa kasihan padanya, karena kami harus berbagi kasih sayang di antara 2 anak. Tapi tentu saja tidak menyalahkan kelahiran Haruka. Karena justru dari kehadiran adiknya inilah, kami bisa melihat Hiro yang sekarang.