ラベル Renungan dari Kisah Anak-anak の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示
ラベル Renungan dari Kisah Anak-anak の投稿を表示しています。 すべての投稿を表示

2009年7月13日月曜日

Tidak terasa Hiro sudah besar

Hiro adalah anak lelaki pertama kami. Bulan ini dia genap berusia 3,5 tahun. Jika mendengar namanya, orang akan berpikir salah satu dari kami adalah orang Jepang. Nama Hiro diambil dari nama Yoshihiro Sugegaya, orang tua angkat suami saya.

Awalnya tidak terpikir bagi kami untuk secepatnya memberi adik bagi Hiro. Kami berencana menambah anak lagi setelah Hiro besar, sekitar 4-5 tahun. Saat itu ayah Hiro masih menempuh pendidikan pasca sarjana di Shizuoka University. Tapi rencana tinggal rencana, pada saat Hiro baru berusia 8 bulan, dokter mengatakan aku telah hamil 2 bulan.

Haruka lahir ketika Hiro berusia 1 tahun 3 bulan. Jarak yang terbilang dekat. Untung saat itu Hiro sudah lancar berjalan dan mulai belajar makan makanan orang dewasa, sehingga aku tidak terlalu repot. Seakan menyadari posisinya sebagai anak pertama, Hiro dengan cepat bisa lepas popok. Tidak sulit menyuruh dia buang air kecil maupun besar, sebelum usianya masuk 1,5 tahun.

Aku menyadari mempunyai adik terlalu dini bisa memancing rasa cemburu pada anak pertama. Ini terjadi pada masa 6 bulan pertama. Tanpa sebab Hiro bisa marah dan mengamuk, sakit-sakitan setiap 2-3 minggu. Walaupun itu cuma sakit biasa seperti diare, batuk atau pilek. Masa-masa itu terasa sangat berat bagiku. Saat itu aku berjauhan dengan ayah Hiro dan menumpang di rumah orang tua untuk melahirkan Haruka. Baru setelah Haruka berusia 1,5 tahun, kami bertiga kembali ke Jepang. Tidak mudah membagi waktu mengurus 2 anak dengan keinginan yang berlainan, ditambah pekerjaan rumah tangga yang tiada hentinya.

Setahun terakhir ini, setelah Hiro jauh dari nenek yang biasa memanjanya, aku melihat perkembangan yang sangat pesat terjadi pada 2 anakku, terutama Hiro. Justru setelah di Jepang dia yang semula anak manja, tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Dia bisa mandi sendiri bahkan memandikan adiknya. Menyiramkan shower, menyabuni dan membilas adiknya. Menjaga adiknya saat bepergian misalnya saat di tempat parkir, selama kami menurunkan barang, dia akan memegang tangan adiknya agar tidak lari kemana-mana. Mencoba membawakan barang belanjaanku. Membantu menyiram kebun. Membereskan mainan yang berserakan. Perkembangan bahasanya pun sangat pesat, apalagi setelah masuk TK Jepang, dia jadi menguasai 2 bahasa. Selain itu Hiro sangat suka diajak diskusi. Dia suka jika aku menanyakan pendapatnya akan suatu hal, dia akan cepat memberikan jawaban.

Aku sering terharu melihat kemandiriannya. Dia suka dengan segala sesuatu yang teratur. Segala sesuatu yang tepat jadwal. Hampir setiap tindakannya ada urutan yang selalu dihafalnya. Aku sering lupa, membiarkan dia dengan kemandiriannya. Berpikir bahwa dia pasti bisa mengerjakan semua. Padahal di usianya ini, dia tetaplah seorang anak balita. Dia masih butuh perhatian yang sama dengan adiknya. Kadang aku merasa kasihan padanya, karena kami harus berbagi kasih sayang di antara 2 anak. Tapi tentu saja tidak menyalahkan kelahiran Haruka. Karena justru dari kehadiran adiknya inilah, kami bisa melihat Hiro yang sekarang.

2009年6月13日土曜日

Kunang-kunang di Malam Hari

Pernah melihat kunang-kunang? Pada waktu kecil, aku sering melihatnya terbang di waktu malam di depan rumah. Aku bisa menangkapnya dengan tangan. Dan rasanya tidak ingin kulepaskan lagi, karena dia begitu menakjubkan bagiku. Bagaimana binatang yg begitu kecil bisa mengeluarkan cahaya dari ekornya? Di masa itu aku tinggal di kota kecil Jatibarang. Rumah orang tuaku berada di pinggir kota. Di sekitar rumah kami ada sawah, sungai, dan empang udang. Setelah pindah ke Tangerang, aku tidak pernah melihat kunang-kunang lagi.
Bertahun-tahun kemudian, aku bisa melihatnya lagi. Rasanya hampir tidak percaya kemarin malam aku bisa melihatnya di Jepang. Kami berkendara mobil sekitar 10-15 menit menuju sungai di pinggir hutan. Itu sekitar pukul 8 malam. Kenalan kami, Sogo-san dan Makino-san, yang mengantar kami kesini.

Bagi Hiro dan Haruka ini kali pertama mereka melihat kunang-kunang. Ayahnya menangkap 1 ekor, supaya mereka bisa melihat lebih dekat. Selain kami, ada beberapa keluarga lainnya yang datang. Wuah, ternyata banyak yang berminat melihat binatang unik ini, sampai jauh-jauh ke pinggir hutan padahal sudah malam. Orang tua yg lain pun berusaha menangkapkan kunang-kunang untuk anaknya. Bagus juga cara orang Jepang mendidik anaknya mencintai alam. Mereka mau meluangkan waktunya untuk mengantar anaknya mempelajari sesuatu langsung ke habitatnya.
Malam ini kami melihat banyak kunang-kunang beterbangan di sekitar sungai. Makino-san mengatakan bahwa minggu kemaren dia melihat lebih banyak lagi kunang-kunang disini, pada saat dia mengantar ke-2 cucunya. Rupanya musim kunang-kunang hampir berakhir. Akhir Juni ini, kunang-kunang sudah tidak ada di sungai ini. Umurnya singkat, namun cahanyanya mengandung daya tarik. Alangkah baiknya jika hidup kita seperti kunang-kunang. Walaupun umur kita singkat di dunia ini, namun kehadiran kita dapat membawa terang di tengah kegelapan.

Foto-foto diambil dari http://www.yosotravel.com

2009年5月21日木曜日

Semangkuk Bakmi

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”“Iya pak, tetapi saya tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu.“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.“ Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.“Tidak apa-apa pak, saya hanya terharu saja" jawab Ana sambil mengering kan air matanya.“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! Tetapi… ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi. Bapak, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibanding kan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.Setelah mendengar perkataan Ana, pemilik kedai itu menarik nafas panjang lalu berkata:“Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Sedang ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya??”Ana terhenyak mendengar hal tsb.“Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal , aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya"Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya.Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya berwajah letih dan cemas.Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah“ Ana, kau sudah pulang nak. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan dingin jika kau tidak memakannya sekarang”Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya. Ia pun menangis di pelukan ibunya.Teman, Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita - khususnya orang tua kita - harus diingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.Terima kasih, memang sebuah kata yang kedengarannya terlalu biasa dan sederhana. Namun jika kita tahu makna yang dalam di baliknya, akan terasa begitu indah…apalagi jika ucapan itu disampaikan kepada orang yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik kita sampai jadi orang, tentunya bukan hanya kata2 saja, namun juga lewat perbuatan dan perhatian kita pada mereka saat mereka masih hidup

Doa Abjad

Setiap anak kecil datang dengan pesan bahwa Tuhan belum dikecewakan oleh manusia. Ceritanya seperti ini, suatu hari seorang gembala kecil sedang menjaga dombanya pada hari minggu pagi, dan dia mendengar bunyi lonceng gereja berbunyi. Dan ketika dia melihat orang-orang berjalan sepanjang perjalanan dimana dia berada, dia berpikir, "Aku ingin berkomunikasi dengan Tuhan! Tetapi apa yang dapat saya katakan kepada Tuhan?"Dia tidak pernah belajar bagaimana berdoa sebelumnya. Maka, dia berlutut, dan mulai menyebutkan abjad satu persatu. Mengulangi doa beberapa kali, seorang pria melewati anak itu dan mendengar suara anak itu dibelakang semak belukar. Dia melihat anak laki-laki itu berlutut dengan tangan terlipat, mata tertutup, dan mengulang-ulang abjad tersebut.Pria itu mengusik anak laki-laki itu "Apa yang kamu lakukan, anak kecil?" Dia bertanya.Anak kecil itu berkata, "Saya sedang berdoa Tuan."Pria itu sepertinya terkejut dan berkata, "Tetapi mengapa kamu mengulang-ulang urutan abjad?"Anak itu menjelaskan, "Saya tidak tahu satu doa pun, tuan. Tetapi saya mau Tuhan menjaga saya, dan membantu saya untuk menjaga domba-domba saya. Maka saya berpikir, kalau saya berkata apa yang saya tahu, Dia dapat menyusun huruf huruf itu menjadi kata-kata, dan Dia akan tahu apa yang saya inginkan dan yang saya harus katakan!" (penulis tidak diketahui)Pria itu tersenyum dan berkata, "Tuhan memberkati hatimu, Tuhan pasti akan melakukan itu!" Dan pria itu berjalan menuju gereja dan mengetahui dengan pasti bahwa dia telah mendengar kotbah yang terbaik pada hari itu.Mungkin apabila kita berpikir seperti anak kecil dan membiarkan Tuhan menyusun huruf-huruf tersebut, menjadi apa yang seharusnya kita inginkan, dan apa yang seharusnya kita katakan, maka mungkin semuanya akan berjalan jauh lebih baik dari apa yang kita telah rencanakan!!!