Ini kali pertama aku wisata gua. Melihat pamfletnya, gua alami ini indah sekali. Mulut gua ini berdekatan dengan air terjun Ikura, sehingga gemuruh airnya terdengar membahana di dalam gua.
Namun sayang, kami tidak berani mengeluarkan kamera di bagian paling indah di dalam gua. Kami hanya mengambil gambar di bagian tertentu yang tidak basah dan di depan kuil kecil seperti dalam foto ini.
Jalan setapak di dalam gua sangat sempit dan becek. Air tetesan dari bagian atas gua terus menerus jatuh mengenai pejalan kaki. Beberapa wisatawan menyiapkan jas hujan, hmm ide bagus juga. Sayang tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Anak-anak kami sedikit panik karena tetesan air ini terasa dingin di kepala mereka.
Suhu di dalam gua sekitar 14-15 derajat Celcius sepanjang tahun. Sehingga pada saat musim dingin terasa hangat. Dan pada musim panas seperti ini terasa sejuk.
2009年8月5日水曜日
Gua Alam Ikura
2009年7月29日水曜日
2009年7月19日日曜日
Wisata Ojigadake
Sabtu, 18 Juli 2009 ayah anak-anak mengajak kami ke bukit Prince. Dalam bahasa Jepangnya disebut Ojigadake. Ini kawasan perbukitan tinggi di dekat pantai. Cuaca cerah hari ini, bahkan bisa dibilang panas terik.

Langit biru cerah seperti ini sebenarnya jarang di kota Tamano dan sekitarnya. Kami tinggal di daerah pantai, namun lautnya lebih sering berkabut. Jarang bisa melihat jelas ke seberang lautan. Padahal di tengah perairan Seto terbentang jembatan besar Seto dan pulau-pulau kecil tidak berpenghuni. Di saat cuaca cerah seperti ini, ayah Hiro dengan semangat mengajak kami jalan keluar.

Ini kali pertama kami naik ke Ojigadake. Cukup berkendaraan 15-20 menit dari rumah kami sampai ke tempat parkir bukit ini. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit menuju puncak. Anak-anak kami sangat menyukai kegiatan alam seperti ini. Terutama Haruka yang lincah, dengan cepatnya dia lari kesana kemari, seakan-akan bukit ini taman bermain yang landai. Untung Hiro cukup dapat diandalkan untuk menjaga adiknya.

Mungkin jika diberi pilihan antara jalan ke perkotaan melihat pertokoan atau wisata alam, aku akan memilih yang terakhir. Yahhh, namun sedikit berkorban untuk kulit. Di musim panas ini, kulitku menghitam dengan cepat.

Ini sisi yang paling terjal dari perbukitan ini. Di belakang kami terbentang perairan Seto.

Langit biru cerah seperti ini sebenarnya jarang di kota Tamano dan sekitarnya. Kami tinggal di daerah pantai, namun lautnya lebih sering berkabut. Jarang bisa melihat jelas ke seberang lautan. Padahal di tengah perairan Seto terbentang jembatan besar Seto dan pulau-pulau kecil tidak berpenghuni. Di saat cuaca cerah seperti ini, ayah Hiro dengan semangat mengajak kami jalan keluar.

Ini kali pertama kami naik ke Ojigadake. Cukup berkendaraan 15-20 menit dari rumah kami sampai ke tempat parkir bukit ini. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit menuju puncak. Anak-anak kami sangat menyukai kegiatan alam seperti ini. Terutama Haruka yang lincah, dengan cepatnya dia lari kesana kemari, seakan-akan bukit ini taman bermain yang landai. Untung Hiro cukup dapat diandalkan untuk menjaga adiknya.

Mungkin jika diberi pilihan antara jalan ke perkotaan melihat pertokoan atau wisata alam, aku akan memilih yang terakhir. Yahhh, namun sedikit berkorban untuk kulit. Di musim panas ini, kulitku menghitam dengan cepat.

Ini sisi yang paling terjal dari perbukitan ini. Di belakang kami terbentang perairan Seto.
Labels:
Wisata Jepang
2009年7月13日月曜日
Tidak terasa Hiro sudah besar
Hiro adalah anak lelaki pertama kami. Bulan ini dia genap berusia 3,5 tahun. Jika mendengar namanya, orang akan berpikir salah satu dari kami adalah orang Jepang. Nama Hiro diambil dari nama Yoshihiro Sugegaya, orang tua angkat suami saya.

Awalnya tidak terpikir bagi kami untuk secepatnya memberi adik bagi Hiro. Kami berencana menambah anak lagi setelah Hiro besar, sekitar 4-5 tahun. Saat itu ayah Hiro masih menempuh pendidikan pasca sarjana di Shizuoka University. Tapi rencana tinggal rencana, pada saat Hiro baru berusia 8 bulan, dokter mengatakan aku telah hamil 2 bulan.

Haruka lahir ketika Hiro berusia 1 tahun 3 bulan. Jarak yang terbilang dekat. Untung saat itu Hiro sudah lancar berjalan dan mulai belajar makan makanan orang dewasa, sehingga aku tidak terlalu repot. Seakan menyadari posisinya sebagai anak pertama, Hiro dengan cepat bisa lepas popok. Tidak sulit menyuruh dia buang air kecil maupun besar, sebelum usianya masuk 1,5 tahun.

Aku menyadari mempunyai adik terlalu dini bisa memancing rasa cemburu pada anak pertama. Ini terjadi pada masa 6 bulan pertama. Tanpa sebab Hiro bisa marah dan mengamuk, sakit-sakitan setiap 2-3 minggu. Walaupun itu cuma sakit biasa seperti diare, batuk atau pilek. Masa-masa itu terasa sangat berat bagiku. Saat itu aku berjauhan dengan ayah Hiro dan menumpang di rumah orang tua untuk melahirkan Haruka. Baru setelah Haruka berusia 1,5 tahun, kami bertiga kembali ke Jepang. Tidak mudah membagi waktu mengurus 2 anak dengan keinginan yang berlainan, ditambah pekerjaan rumah tangga yang tiada hentinya.

Setahun terakhir ini, setelah Hiro jauh dari nenek yang biasa memanjanya, aku melihat perkembangan yang sangat pesat terjadi pada 2 anakku, terutama Hiro. Justru setelah di Jepang dia yang semula anak manja, tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Dia bisa mandi sendiri bahkan memandikan adiknya. Menyiramkan shower, menyabuni dan membilas adiknya. Menjaga adiknya saat bepergian misalnya saat di tempat parkir, selama kami menurunkan barang, dia akan memegang tangan adiknya agar tidak lari kemana-mana. Mencoba membawakan barang belanjaanku. Membantu menyiram kebun. Membereskan mainan yang berserakan. Perkembangan bahasanya pun sangat pesat, apalagi setelah masuk TK Jepang, dia jadi menguasai 2 bahasa. Selain itu Hiro sangat suka diajak diskusi. Dia suka jika aku menanyakan pendapatnya akan suatu hal, dia akan cepat memberikan jawaban.

Aku sering terharu melihat kemandiriannya. Dia suka dengan segala sesuatu yang teratur. Segala sesuatu yang tepat jadwal. Hampir setiap tindakannya ada urutan yang selalu dihafalnya. Aku sering lupa, membiarkan dia dengan kemandiriannya. Berpikir bahwa dia pasti bisa mengerjakan semua. Padahal di usianya ini, dia tetaplah seorang anak balita. Dia masih butuh perhatian yang sama dengan adiknya. Kadang aku merasa kasihan padanya, karena kami harus berbagi kasih sayang di antara 2 anak. Tapi tentu saja tidak menyalahkan kelahiran Haruka. Karena justru dari kehadiran adiknya inilah, kami bisa melihat Hiro yang sekarang.
Awalnya tidak terpikir bagi kami untuk secepatnya memberi adik bagi Hiro. Kami berencana menambah anak lagi setelah Hiro besar, sekitar 4-5 tahun. Saat itu ayah Hiro masih menempuh pendidikan pasca sarjana di Shizuoka University. Tapi rencana tinggal rencana, pada saat Hiro baru berusia 8 bulan, dokter mengatakan aku telah hamil 2 bulan.

Haruka lahir ketika Hiro berusia 1 tahun 3 bulan. Jarak yang terbilang dekat. Untung saat itu Hiro sudah lancar berjalan dan mulai belajar makan makanan orang dewasa, sehingga aku tidak terlalu repot. Seakan menyadari posisinya sebagai anak pertama, Hiro dengan cepat bisa lepas popok. Tidak sulit menyuruh dia buang air kecil maupun besar, sebelum usianya masuk 1,5 tahun.

Aku menyadari mempunyai adik terlalu dini bisa memancing rasa cemburu pada anak pertama. Ini terjadi pada masa 6 bulan pertama. Tanpa sebab Hiro bisa marah dan mengamuk, sakit-sakitan setiap 2-3 minggu. Walaupun itu cuma sakit biasa seperti diare, batuk atau pilek. Masa-masa itu terasa sangat berat bagiku. Saat itu aku berjauhan dengan ayah Hiro dan menumpang di rumah orang tua untuk melahirkan Haruka. Baru setelah Haruka berusia 1,5 tahun, kami bertiga kembali ke Jepang. Tidak mudah membagi waktu mengurus 2 anak dengan keinginan yang berlainan, ditambah pekerjaan rumah tangga yang tiada hentinya.
Setahun terakhir ini, setelah Hiro jauh dari nenek yang biasa memanjanya, aku melihat perkembangan yang sangat pesat terjadi pada 2 anakku, terutama Hiro. Justru setelah di Jepang dia yang semula anak manja, tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Dia bisa mandi sendiri bahkan memandikan adiknya. Menyiramkan shower, menyabuni dan membilas adiknya. Menjaga adiknya saat bepergian misalnya saat di tempat parkir, selama kami menurunkan barang, dia akan memegang tangan adiknya agar tidak lari kemana-mana. Mencoba membawakan barang belanjaanku. Membantu menyiram kebun. Membereskan mainan yang berserakan. Perkembangan bahasanya pun sangat pesat, apalagi setelah masuk TK Jepang, dia jadi menguasai 2 bahasa. Selain itu Hiro sangat suka diajak diskusi. Dia suka jika aku menanyakan pendapatnya akan suatu hal, dia akan cepat memberikan jawaban.

Aku sering terharu melihat kemandiriannya. Dia suka dengan segala sesuatu yang teratur. Segala sesuatu yang tepat jadwal. Hampir setiap tindakannya ada urutan yang selalu dihafalnya. Aku sering lupa, membiarkan dia dengan kemandiriannya. Berpikir bahwa dia pasti bisa mengerjakan semua. Padahal di usianya ini, dia tetaplah seorang anak balita. Dia masih butuh perhatian yang sama dengan adiknya. Kadang aku merasa kasihan padanya, karena kami harus berbagi kasih sayang di antara 2 anak. Tapi tentu saja tidak menyalahkan kelahiran Haruka. Karena justru dari kehadiran adiknya inilah, kami bisa melihat Hiro yang sekarang.
2009年6月30日火曜日
Patroli Car Bento
Bento Hiro hari ini bertema mobil patroli polisi. Ini hasil perundingan ibu dan anak semalam. Aku bertanya Hiro mau bento mobil patroli atau bento beruang putih? Dan pilihannya adalah bento ini. Ok, mama siap!

Nasi Mobil Patroli
Nasi putih pulen 1 mangkok anak (sesuai ukuran makan anak)
Nori/rumput laut kering secukupnya
【Hiasan Mobil】
Sirine dibuat dari mini tomato
Jendela dari wortel rebus
Roda dari cikuwa dan kyuri
Lampu dari parika merah
【Cara membuat】
Nasi Mobil Patroli
Nasi putih pulen 1 mangkok anak (sesuai ukuran makan anak)
Nori/rumput laut kering secukupnya
【Hiasan Mobil】
Sirine dibuat dari mini tomato
Jendela dari wortel rebus
Roda dari cikuwa dan kyuri
Lampu dari parika merah
【Cara membuat】
- Bentuk nasi menggunakan wrap menjadi bentuk mobil. Tutup bagian bawah dengan nori.
- Hias mobil dengan tomato, wortel, dll.
Tumis Caisim dan Sosis
Sosis 2 buah, iris miring tipis
Caisim 2 batang, potong-potong
Telor 1 butir, dikocok lepas
Butter secukupnya
Garam, lada sedikit
【Cara membuat】
Sosis ditumis menggunakan butter, sisihkan dipinggir wajan, tambahkan kocokan telor. Tunggu sebentar sampai telor setengah matang, kemudian aduk-aduk dengan sosis. Masukkan caisim, bubuhkan garam dan lada. Tumis sebentar, angkat.
Tambahan lauk : Ayam goreng tepung
2009年6月26日金曜日
Membuat Taman Di Dalam Ruangan

Taman dalam ruang dapat membangun suasana alam. Ruang jadi sejuk, suasana pun bagai di ruang luar.
Semua tentu perduli dengan sebuah lingkungan perumahan yang indah dan asri. Lingkungan yang demikian itu bisa dibangun dari taman rumah. Sekecil apapun lahan halaman yang kita punya, kita bisa memanfaatkannya sebagai taman.
Taman sendiri sebetulnya tidak hanya bisa dibuat pada lahan terbuka. Taman dapat dibuat di dalam ruangan. Orang mengenal model taman seperti ini sebagai taman dalam.Taman dalam dapat dibangun pada area terbuka pada ruang dalam. Misalnya pada innercourt atau ruang terbuka di bagian dalam bangunan. Ukuran innercourt-nya sendiri sebetulnya tak harus dipermasalahkan. Yang penting, fungsi inncercourt sebagai pintu keluar masuk udara dari dan ke dalam bangunan dapat maksimal.
Nah, untuk memaksimalkan fungsinya, pada innercourt bisa dibuat taman kering. Adanya taman pada innercourt dapat membantu terciptanya sirkulasi udara di dalam rumah. Taman pada innercourt berfungsi, antara lain menyediakan pasokan udara segar pada bagian dalam rumah. Innercourt juga dapat memberikan perbedaan temperatur udara, sehingga dapat mendorong udara panas ke luar bangunan.
Untuk membuat taman pada innercourt pun sebetulnya tak harus ribet. Jenis tanaman tak perlu banyak. Maksimal 2-3 jenis tanaman. Selain pertimbangan kemudahan akan perawatan, taman dalam dibuat minimal guna menyelaraskan konsep hunian modern. Sisanya, Anda bisa menambahkan elemen lain seperti batu alam jenis koral atau batu kali pecah. Sebagai penambah kecantikan, tambahkan elemen lain seperti gentong. Jika lahan cukup, buatlah kolam pancuran mini sebagai pemberi nuansa lewat bunyi gemericik air.
Penulis: Whery
Foto: SuraiLokasi: Show Unit Puri Botanical Residence, Mega Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Sumber: http://www.ideaonline.co.id/home
Labels:
Interior,
Suasana Rumah,
Taman
2009年6月13日土曜日
Kunang-kunang di Malam Hari
Pernah melihat kunang-kunang? Pada waktu kecil, aku sering melihatnya terbang di waktu malam di depan rumah. Aku bisa menangkapnya dengan tangan. Dan rasanya tidak ingin kulepaskan lagi, karena dia begitu menakjubkan bagiku. Bagaimana binatang yg begitu kecil bisa mengeluarkan cahaya dari ekornya? Di masa itu aku tinggal di kota kecil Jatibarang. Rumah orang tuaku berada di pinggir kota. Di sekitar rumah kami ada sawah, sungai, dan empang udang. Setelah pindah ke Tangerang, aku tidak pernah melihat kunang-kunang lagi.
Bertahun-tahun kemudian, aku bisa melihatnya lagi. Rasanya hampir tidak percaya kemarin malam aku bisa melihatnya di Jepang. Kami berkendara mobil sekitar 10-15 menit menuju sungai di pinggir hutan. Itu sekitar pukul 8 malam. Kenalan kami, Sogo-san dan Makino-san, yang mengantar kami kesini.Bagi Hiro dan Haruka ini kali pertama mereka melihat kunang-kunang. Ayahnya menangkap 1 ekor, supaya mereka bisa melihat lebih dekat. Selain kami, ada beberapa keluarga lainnya yang datang. Wuah, ternyata banyak yang berminat melihat binatang unik ini, sampai jauh-jauh ke pinggir hutan padahal sudah malam. Orang tua yg lain pun berusaha menangkapkan kunang-kunang untuk anaknya. Bagus juga cara orang Jepang mendidik anaknya mencintai alam. Mereka mau meluangkan waktunya untuk mengantar anaknya mempelajari sesuatu langsung ke habitatnya.
Malam ini kami melihat banyak kunang-kunang beterbangan di sekitar sungai. Makino-san mengatakan bahwa minggu kemaren dia melihat lebih banyak lagi kunang-kunang disini, pada saat dia mengantar ke-2 cucunya. Rupanya musim kunang-kunang hampir berakhir. Akhir Juni ini, kunang-kunang sudah tidak ada di sungai ini. Umurnya singkat, namun cahanyanya mengandung daya tarik. Alangkah baiknya jika hidup kita seperti kunang-kunang. Walaupun umur kita singkat di dunia ini, namun kehadiran kita dapat membawa terang di tengah kegelapan.Foto-foto diambil dari http://www.yosotravel.com
登録:
投稿 (Atom)

